Untukku Sebelum Untukmu

Kita mengintip hidup seseorang hanya sepersekian dari 24 jam waktu nya setiap hari. Sangat singkat. Lalu apa berhak kita menilai kehidupan orang tersebut?

Melabeli seseorang dengan sebutan ini dan itu. Mengomentari hidup seseorang jika tidak sesuai dengan ekspektasi. Merasa diri ini lebih ini dan itu dibanding orang tersebut.

Apalagi jika komentar ini datang dari seseorang yang sudah belajar agama. Lalu menganggap orang lain kurang sholeh, kurang rajin belajar agama, kurang ini dan itu. Menilai kadar keimanan dan kesholehan seseorang. Apakah manusia adalah makhluk yang bisa membaca hati orang lain? Tentu tidak.

Memang agama adalah nasihat. Tapi ada adab dibalik menasihati seseorang. Ada kata yang harus dipilah-pilih untuk menasihati tanpa menyakiti. Ada kelembutan yang perlu disampaikan sebelum menilai bagai juri perlombaan.

Banyak-banyak beristighfar. Hati-hati dengan rasa ujub, yang bisa diam-diam menghampiri tanpa kita sadari. Kita belum mencapai titik akhir perjalanan, semoga Allah karuniakan kita dengan keistiqomahan.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Comments

Popular Posts