Berangkat dari pengalaman menyusui ku di postingan sebelumnya, kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang penggunaan nipple shield atau pelindung puting. Awal mulanya, aku direkomendasikan oleh konselor laktasi ku untuk mencoba menggunakan nipple shield ini sampai dengan putingku sembuh. Aku sempat bertanya karena khawatir apakah nipple shield ini mempengaruhi produksi ASI ku, dan juga apakah penggunaannya akan membuat bayi ku bingung puting. Jawabannya... Insya Allah tidak masalah.
Klaim dari Pigeon
“Proven to be a lifesaver for the first few months of breastfeeding. This ultra-soft silicone shelf, almost as close to the skin, protects sore breasts and allows you to continue breastfeeding with less pain. Includes a carrying case for storing product and a range of sizes based on your nipple size! Holes at the tip allow controlled milk flow into the baby’s mouth and provide air circulation to relieve cracked or bleeding nipples.“
Bentuk dan Tampilan
Pertama kali dibuka, nipple shield ini dimasukkan ke dalam wadah, yang mana sangat memudahkan dibawa-bawa. 1 paket ada 2 buah nipple shield berbahan silikon yang diklaim lebih lentur dan fleksibel. Nipple shield dari pigeon ini juga sudah BPA/BPS free ya. Terkait ukuran setau aku, ada dua ukuran yang dijual yaitu M (diameter 13 mm) dan L (diameter 16 - 18 mm). Saat itu aku pakai yang ukuran M, dan memang pas sih.
Review Pemakaian
Aku pakai nipple shield ini selama kurang lebih tiga bulan. Sebetulnya aku juga coba buat lepas pasang, tapi entah kenapa setiap aku lepas pasti putingku jadi lecet lagi, sampai dibulan ke-3 akhirnya bayiku bisa direct breastfeeding (DBF) tanpa bantuan nipple shield. Selama tiga bulan kesan pertama yang kudapatkan adalah... lebih repot.
Namanya juga alat bantu ya, pasti lebih repot dari DBF. Harus rutin membersihkan dan sterilisasi. Kemudian setiap lagi menyusui harus dipegang karena kalau tidak dia seringkali bergeser dan jadi kurang pas ke putingnya, yang mana kalau menyusui di luar pakai apron menyusu jujurrr agak susah. Tapi karena bayiku juga nggak mau minum pakai dot (ASIP) jadi mau nggak mau ini salah satu ikhtiar ku untuk bisa terus memberikan ASI.
Kalau untuk untuk klaim memproteksi puting lecet dan mengurangi rasa sakit gimana?
Alhamdulillah biidznillah di aku bekerja dengan baik. Aku sempat cari-cari review lain soal penggunaan nipple shield dan aku baru tau kalau bagi beberapa ibu, nipple shield ini bikin lecet. Alhamdulillah aku tidak mengalaminya. Rasa sakit masih tetap berasa karena nipple shield ini kan bahannya dibuat setipis mungkin agar masih ada kesan natural nya (beda dengan dot), tapi rasa sakitnya jauh berkurang dan bisa ditahan.
Meskipun aku sudah konfirmasi ke dokter terkait penggunaan nipple shield, kadang-kadang aku sering insecure apakah nipple shield ini mempengaruhi produksi ASI ku ya? Alhamdulillah produksi ASI ku tetap lancar dan bayi juga menghisap dengan baik ditandai dengan kenaikan berat badan yang adekuat.
Lama penggunaan nipple shield pada pengalamanku aku sesuaikan dengan kemampuan bayiku menyusu ya. Aku beberapa kali mencoba untuk lepas, tapi sepertinya dia masih belum bisa ajeg dalam menyusu. Sampai akhirnya di bulan ke-3 dia bisa lepas dengan sendirinya. Awalnya aku sempet khawatir yaa, jangan-jangan dia nggak bisa lepas dari nipple shield, ternyata pada waktunya akhir nya bisa.
Apakah aku merekomendasikan?
Menurutku ini kembali lagi ke kebutuhan ibu-ibu sekalian. Memang menurutku DBF itu tetap yang paling utama, paling mudah dan nggak ribet. Tapi, terkadang kita ada di situasi yang nggak memungkinkan DBF entah karena puting datar atau puting lecet, nipple shield ini salah satu alternatif dari banyak alternatif lainnya untuk tetap bisa menyusui. Tidak mesti ideal, yang penting kita sudah ikhtiar maksimal. Semangat mengASIhi.
***
Jakarta, 8 April 2023
Sukma Rahayu
Comments
Post a Comment