Kunjungan Orang Tua ke Ternate

Sekitar bulan Agustus, kakak ipar ku kasih kabar ke grup keluarga kalau lagi ada promo Garuda Fair untuk penerbangan Jakarta-Ternate, diskon 50% lumayan banget kan. Papa kemudian meng-iya-kan untuk memesan tiket ke Ternate yang meskipun tanggal nya nggak bisa milih akhirnya jatuh pada tanggal 8 - 14 Oktober kemarin. 

Kegiatan di Ternate selama seminggu tentu saja dihabiskan mayoritas bermain sama cucu. Hanifa senang sekali, ekspresi nya kaget dan selalu tersenyum ketika melihat Kakek dan Nena nya ada di sini. Kebetulan dalam waktu seminggu itu, Abu H juga ada perjalanan dinas jadi Mama Hanifa dan Hanifa nginep di hotel bersama Nena dan Kakek. 

Hari pertama Nena dan Kakek tiba, kami berkililing pusat kota. Naik grab car lalu turun di Ternate Landmark, kami memutuskan untuk berjalan kaki di Pantai Falajawa, Ternate Landmark, Taman Nukila, kemudian sekalian menunggu waktu Maghrib di Masjid Raya Al Munawwar, lalu melanjutkan jalan kaki ke Pasar dan berujung makan ikan bakar. Hmm yummy.

Kami sempat merental mobil beserta supir untuk berkeliling Pulau Ternate selama seharian. Pak Rustam, supir kami sekaligus guide mengajak kami ke beberapa tempat wisata terkenal di Ternate (yang sebagian belum pernah aku kunjungi). Kapan-kapan bikin post terpisah deh tentang spot wisata di sini.

Hari berikutnya, kami berjalan kaki sembari olahraga ke Fort Oranje. Ini merupakan benteng terkenal yang menjadi tempat berkumpul orang Ternate di pagi atau sore hari, sekadar untuk berolahraga atau mengadakan acara. Benteng nya masih kokoh dan cukup terawat. Menjadi menarik mengunjungi Fort Oranje bersama kakek, seorang pensiunan tentara. Beliau menjelaskan fungsi-fungsi bangunan tertentu dari perspektif seorang tentara. 


Perjalanan kami memang tidak padat, kalau capek kami memilih beristirahat di hotel. Maklum, perjalanan kali ini kan bersama dua lansia dan satu balita 😁

Tidak lupa kami menyempatkan untuk berkelilig pulau tetangga, Pulau Tidore. Ini juga merupakan pengalaman perdana ku, naik speedboat seharga 15 ribu dan menyebrang ke Pelabuhan Rum dengan waktu tempuh kurang lebih 10 menit. Kami disana berkenalan dengan Pak Arsyad, supir mobil yang bersedia mengajak kami berkeliling pulau selama 4 jam (sampai waktu makan siang). Beliau juga mengajak kami ke rumah makan ikan bakar di Pantau Tugulufa. Tidore masya Allah bersih, tenang dan alam nya sangat indah.


Dua hari kemudian, setelah beristirahat dan mencari oleh-oleh tiba juga waktu nya Nena dan Kakek kembali ke Jakarta. Kami lalu berpisah setelah mengantarkan mereka ke Bandara. 

 ***
Soal Rasa... 
Perjalanan kali ini terasa berbeda dengan wisata yang kerap kali kami lakukan di Jakarta. Keluarga kami memang memiliki love language quality time. Sedari kecil, kami sering diajak jalan-jalan, meski bukan ke tempat wah tapi setidaknya makan di luar, atau berjalan ke taman, merupakan agenda rutin keluarga kami. 

Ketika pindah ke Ternate, aku menyadari bahwa kemewahan itu tidak bisa lagi aku rasakan. Kunjungan rutin di akhir pekan berganti dengan video call rutin setiap hari. Tapi tetap saja, rasanya berbeda dengan berkumpul bersama. Perjalanan kemarin membangkitkan rasa nostalgia anak kecil yang jalan-jalan bersama orang tua nya. Benar ternyata, sebesar apapun kita, tetap saja bagi orang tua nya tetaplah seorang anak kecil. Tiba-tiba baru tersadar ketika jauh merantau, dan kembali bertemu, bahwa orang tua kita sudah tidak lagi muda. 

Saat mereka pulang ke Jakarta, jujur saja tangisku pecah di hadapan suami ketika sedang berdua. Aku merasa rindu, waktu berlalu begitu cepat dan aku tetap ingin menjadi anak kecil mereka. Setiap hari doa kulangitkan, meminta agar Allah selalu menjaga mereka, sembari berdoa semoga kami bisa kembali berkumpul bersama. 

Jazakumullah khayr Kakek dan Nena, semoga Allah selalu memberkahi kalian ❤

Comments

Popular Posts