Hanifa’s Birth Story
Kembali menulis agar bisa menyimpan memori dengan lebih nyata sehingga kelak Hanifa bisa melakukan napak tilas di tulisan Mama. Selamat membaca, my little girl.
3 Agustus 2022
Kehamilan pertamaku memasuki usia 38 minggu, waktunya untuk pemeriksaan kembali. Dua minggu lalu saat konsul, kepala bayi sudah memasuki bagian atas panggul, qadarullah saat ini kepala nya naik lagi dan posisi nya berputar tidak lagi di bawah. Selain itu, estimasi berat badan bayi yang meningkat pesat membuat dokter menyarankan untuk melahirkan secara caesar. Dokter Prita memintaku untuk berdiskusi dengan keluarga untuk menentukan tanggal operasi. Saat itu yang kurasa lumayan sedih, karena selama ini sudah mencoba ikhtiar berbagai hal untuk rencana melahirkan normal, mulai dari jalan kaki, senam hamil, dan lain-lain. Alhamdulillah ala kulli haal
5 Agustus 2022
Setelah berdiskusi dengan keluarga dan koordinasi dengan jadwal dokter, kami memutuskan untuk melakukan operasi di tanggal 7 Agustus. Tanggal 5 Agustus, aku datang ke rumah sakit untuk cek lab dengan hasil yang cukup menyedihkan. Hasil lab menunjukkan Hb ku hanya 8, sehingga dokter menyarankan aku untuk transfusi darah sebelum operasi dilakukan. Ingat sekali waktu itu stok darah di rumah sakit sedang habis, tapi untungnya rumah sakit menawarkan untuk membantu mengambilkan. Aku hanya perlu melampirkan fotocopy KTP, KK dan membayar biaya administrasi ke PMI sebesar 1.5 juta rupiah untuk 2 kantong darah.
7 Agustus 2022
Aku masuk ke ruang perawatan 1 hari sebelum operasi (6 Agustus 2022) untuk transfusi terlebih dahulu. Saat datang di CTG untuk melihat detak jantung janin yang alhamdulillah baik. Kemudian masuk ruang rawat seperti biasa, melakukan pengecekan lab kembali setelah transfusi, dan tes alergi antibiotik. Oiya, sebelumnya aku minta ke dokter untuk menggunakan SC Eracs, jadi aku masih bisa makan dan minum sebelum operasi.
Apa sih ERACS Itu? ERACS adalah singkatan dari Enhance Recovery After Caesarean Surgery. Perbedaannya adalah pada prosedur anestesi, diharapkan ibu yang melahirkan menggunakan prosedur ERACS dapat pulih dengan lebih cepat. Bahkan testimoni dari beberapa orang-orang SC dengan prosedur ERACS ini tidak terasa menyakitkan.
Pukul 6.00 pagi bidan masuk kamar untuk menyiapkan ku ke ruang operasi. Rasanya saat itu deg-degan banget laa hawla walaa quwwata illa billaah. Tak lupa minta restu orang tua melalui telepon dan juga restu suami. Ternyata gini yaa rasanya mau melahirkan, haru, takut, deg-degan bercampur aduk. Apalagi waktu minta didoakan kelancaran dan minta maaf sama suami. Suami waktu itu pesan jangan lupa banyak berdzikir.
Setelah masuk ruang persiapan, aku ganti baju operasi dan siap-siap. Alhamdulillah di RS Al Fauzan menyediakan jilbab agar bisa tetap ikhtiar menutup aurat, meskipun tentu saja tetap tidak akan maksimal. Di ruang operasi aku takut bangett, tak henti-henti mulut ini berdzikir, khawatir itu adalah ucapan terakhir. Yang aku senang sebelum melakukan operasi seluruh staf yang terlibat memulai dengan berdoa, mengajakku berbincang-bincang agar aku tidak takut dan menenangkan ku. Dokter anestesi yang berdiri di belakangku memberi live update seperti ‘bu, itu bayi nya udah kelihatan’, ‘bu, sebentar lagi yaah sabar’ dan suara beliau keibuan sekali.
Jam menunjukkan pukul 07.24 ketika aku pertama kali mendengar tangisan Hanifa. Setelah Hanifa dibersihkan, aku diperlihatkan wajah mungil nya yang sedang melihat dunia dengan seksama. Masya Allah anakku. Alhamdulillah Allah ijinkan kami untuk bertemu. Hanifa kemudian dibawa keluar ruang operasi untuk dilakukan observasi oleh Dokter Lia, dokter spesialis anak, sedangkan aku tetap di meja operasi untuk dijahit dan dibersihkan.
Setelah selesai dioperasi aku di tempatkan di ruang observasi. Qodarullah di sini agak lama karena mendadak tekanan darahku meningkat sehingga dikhawatirkan terjadi pre-eklampsi. Meski demikian, biidznillah aku tetap diizinkan untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Proses IMD cukup lama sekitar 40 menit - 1 jam. Alhamdulillah tekanan darahku juga berangsur normal jadi kami bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.
Setelah pindah ke ruang rawat inap sepertinya bersamaan dengan ketika efek bius menghilang. Rasanya? Subhanallah sakiiiit. Sakit sekali, entah toleransi rasa sakit ku rendah atau memang sakit. Beberapa orang bilang kalau SC ERACS lebih tidak sakit, tapi rupanya ini tetap menjadi rasa sakit terintens di hidupku huhu. Jazakumullah khayr suamiku yang selalu sigap membantu makan, ke kamar mandi, dan menuntunku ketika aku belajar berjalan.
Hari-hari menjadi orang tua baru pun dimulai. Ternyata rasanyaaaa nano nano yah. Namun rasa bahagia dan syukur kami tetap yang utama. Alhamdulillah Allah amanahkan anugerah terindah yaitu anak.

Comments
Post a Comment