Lika-liku Menyusui
Salah satu hal yang sering terlupakan oleh calon ibu yang sedang menantikan kelahiran bayi nya (termasuk aku) adalah... belajar menyusui.
Dari sekian webinar yang aku ikuti mulai dari aktivitas fisik saat hamil, menjaga kesehatan mental saat hamil dan pasca melahirkan, hingga perawatan bayi baru lahir, aku lupa banget untuk belajar terkait proses menyusui. Kenapa? Karena dulu kupikir menyusui adalah hal yang alamiah, semua ibu dan bayi pasti punya ikatan langsung saat menyusui, pasti langsung bisa, apalagi aku sudah menyaksikan kakakku menyusui dua anak nya dengan lancar jaya sampai usia 2 tahun. Ternyata... qadarullah perjalananku tidak semulus itu.
Ketika Hanifa lahir, aku diberikan ruang untuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) kira-kira sekitar 30-40 menit. Dia sempat bangun dan meminum kolostrum ku, pikiranku berkata “oh ASI ku keluar dengan lancar alhamdulilah”. Setelah pindah ke ruang rawat dan diajarkan tentang cara menyusui oleh bidan dan konselor laktasi aku mulai menjalani perjalanan menyusuiku. Aku yang ibu baru ini tentu saja tidak tau rasanya ketika bayi menyusu, sehingga saat Hanifa menyusu dan aku merasa sedikit sakit aku mewajarkan hal tersebut. Sampai lama-lama putingku lecet, tapi aku sering membaca curhatan ibu-ibu di sosial media kalau itu wajar dialami awal-awal saat menyusui. Tapi kok lama-lama (bahkan sampai setelah pulang ke rumah) aku merasa menyusui adalah sesuatu yang menyakitkan, aku tidak bisa enjoy, aku selalu melihat jarum jam bergerak sambil membatin “Kok lama sekali yaa dia menyusu, aku sudah kesakitan”, sampai puncaknya suami menjadi tidak tega karena setiap menyusui aku sambil berderai air mata.
Seminggu pertama aku sempat berada pada titik ingin menyerah, tidak sanggup memberikan ASI ekslusif. Sampai kemudian ditengah kebuntuanku, keluarga mendorongku untuk membuat janji temu dengan konselor laktasi (huhu terima kasih support systemku). Akhirnya aku memberanikan diri untuk datang ke konselor laktasi dengan hati mellow dan mata sembab kebanyakan menangis.
Sebagai informasi, aku datang ke konselor laktasi (dr. Sarah Kaurow, jazakillahu khayr dokter) di RS Al Fauzan, Jakarta Timur, karena Hanifa juga lahir di sini. Pada awalnya, kukira sesi konsultasi akan berlangsung seperti dengan dokter umum pada umumnya. Tapi ternyata dokter Sarah benar-benar mendengarkan keluhanku tanpa terburu-buru, memberikan aku ruang untuk mencurahkan perasaan dan kesulitan ku (lengkap dengan nangis-nangis nya), dan menjelaskan perlahan satu per satu masalah yang mungkin terjadi. Tidak hanya sekadar menjelaskan, tapi beliau juga melihatku praktik menyusui, mengoreksi posisi menyusui dengan sangat detail hingga penyebab nya diketahui. Qadarullah ternyata Hanifa lahir dengan tongue tie (meski derajat keparahannya tidak sampai diharuskan insisi) sehingga agak sulit untuk menyusu secara normal.
Dari hasil pemeriksaan, dokter Sarah tetap mendukungku untuk terus memberikan ASI guna tercapai ASI ekslusif, kemudian menjelaskan beberapa hal yang dapat membantuku menjalani proses menyusui dengan lebih nyaman, salah satunya dengan menggunakan nipple shield. Insya Allah akan aku ceritakan lebih lanjut mengenai nipple shield atau pelindung puting ini di postingan selanjutnya. Setelah pulang dan pelan-pelan menata hati, menguatkan tekad, dan melaksanakan saran-saran dokter Sarah, alhamdulillah bi idznillah proses menyusuiku mulai membaik dan aku mulai menikmati nya, hingga tak terasa periode ASI ekslusif pun bisa terlalui.
Pada postingan kali ini, aku ingin berbagi kepada ibu-ibu yang menghadapi masalah menyusui atau kepada keluarga ibu-ibu yang mendampingi. Ada beberapa hal yang menurutku bisa dilakukan jika menghadapi masalah menyusui ini.
Berdoa dan meminta pertolongan Allah ﷻ
Perbanyak ilmu sebelum menjalani masa menyusui
Minta dampingi support system
Jangan takut untuk meminta bantuan tenaga kesehatan
Comments
Post a Comment