Ketika Ibu Sakit
Rumah menjadi lebih sepi.. itulah yang kurasakan ketika ibu sakit.
Meski diri ini sebisa mungkin berusaha tetap menghandle kerjaan rumah tangga, membersihkan rumah, menyiapkan makanan dan tanggung jawab lainnya, tentu saja rasanya berbeda. Penuh dengan keburu-buruan, emosi yang naik turun dan ketidaksempurnaan lainnya. Dari sini baru kusadari bahwa peran ibu dalam suatu keluarga itu signifikan.
Setelah aku menikah dan memiliki buah hati, aku sadar betul apa tanggung jawab utamaku, menjadi istri dan ibu. Sama seperti ibuku, kali ini akulah pusat gravitasi rumahku. Tentu saja ini bukan beban, ini merupakan amanah yang dengan senang hati aku emban.
Entah mengapa, ada ungkapan yang umum beredar di masyarakat yaitu ‘ibu tidak boleh sakit’. Paham akan konsekuensi ketika seorang ibu sakit, pernah merasa setuju dengan ungkapan tersebut, namun saat ini memilih untuk melihat dari perspektif lain. Seorang ibu boleh sakit. Tentu saja, ibu tetaplah seorang manusia yang secara fitrahnya bisa Allah berikan sakit.
Ibu boleh beristirahat. Mendelegasikan pekerjaan rumah ke orang lain, membiarkan rumah sedikit berantakan, menggunakan jasa delivery untuk makanan anggota keluarga, membiarkan anak bermain dengan ayah nya atau anggota keluarga lain. Ibu berhak memiliki waktu sendiri, memulihkan diri sendiri hingga bisa beraktivitas berkualitas. Digaris bawahi karena sering kali para Ibu ketika membaik sedikit langsung dibebankan kerjaan yang menumpuk dan harus mengerjakannya dengan setengah sempoyongan.
Ketika ibu sakit, seringkali insting seorang ibu sendiri yang tidak membiarkan diri ini beristirahat. Tidak tega melihat rumah berantakan dan sedikit tidak terurus. Akhirnya banyak ibu yang memaksakan diri nya tetap mengerjakan pekerjaan harian karena adanya perasaan bersalah. Bu, sejatinya ketika Allah memberikan ujian berupa sakit kepada Ibu, ingatlah bawa ini juga pelajaran bagi keluarga kecilmu. Suami dan anakmu perlu belajar untuk mengurus dirimu yang sakit. Ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran bagi keluarga kecilmu. Belajar bersabar, kerja sama, pembagian urusan domestik, kemandirian, empati dan kepedulian. Tidak perlu merasa bersalah. Justru ini merupakan kesempatan, agar keluarga kita tidak tumbuh menjadi seorang yang nirempati di masyarakat.
Peluk semua ibu-ibu yang sedang berjuang sekuat tenaga menjalani amanah yang telah Allah anugerahkan.
Comments
Post a Comment