Perempuan Harus Selektif


Setiap orang pasti ingin memiliki pasangan ideal versi masing-masing. Karena kita tidak hanya memilih seseorang untuk dicintai seumur hidup tapi juga mencari partner hidup di dunia dan akhirat. Melihat bibit-bebet-bobot pasangan itu penting ya ladies, karena kita sebagai perempuan bisa memilih, tapi anak-anak kita kelak tidak bisa memilih siapa Ayahnya.

Source: Unsplash 

Selektif bukan berarti memiliki 1000 checklist saat berkenalan dengan pria baru. Bukan pula dengan pacaran bertahun-tahun hanya untuk 'mengenal lebih dalam'. Sah-sah saja punya preferensi pribadi dalam memilih pasangan. Tapi ada satu yang seringkali terlupa padahal sangat penting, agama dan akhlak.

Mengapa harus keduanya? Karena tidak jarang kita jumpai pria yang berpenampilan agamis, lengkap dengan rutinitas ibadah wajib dan sunnah, tapi memiliki akhlak yang kurang baik terhadap keluarga nya. Ingatkah teman-teman hadits dibawah ini?

Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Berbuat baik kepada teman dan keluarga berbeda, kawan. Seringkali banyak dari kita yang take family for granted lantaran anggapan 'namanya juga keluarga'. Oleh karena itu carilah pendamping hidup yang memiliki pondasi agama yang kuat dan berakhlak. Bagaimana caranya?

Berdoa dan meminta pertolongan Allah

Ini adalah hal pertama yang harus digarisbawahi. Karena kita harus sadar, sebesar apapun usaha kita, tidak akan berhasil jika Allah tidak berkehendak.
Langitkanlah doa dengan sungguh-sungguh diwaktu mustajab. Bagi yang masih memiliki orang tua, mintalah kedua orang tua untuk turut mendoakan agar dipertemukan dengan pasangan yang ideal.

Berkenalan melalui orang yang amanah
Pasti sering mendengar istilah taaruf atau berkenalan kan? Dalam fase ini kita hanya dipertemukan oleh seorang pria dan diperbolehkan untuk melanjutkan atau menolak ke jenjang yang lebih serius. Perkenalan ini biasanya diperantai oleh seseorang. Nah, pilihlah orang yang amanah sebagai perantara. Salah satunya dengan memilih orang yang memiliki akidah yang lurus sesuai dengan pemahaman salaf terdahulu dan memiliki ilmu yang cukup dalam menjadi perantara, sehingga tidak mendzalimi kedua belah pihak yang dikenalkan.

Tanyakan hal-hal prinsipil kepada calon pasangan
Jangan pernah takut bertanya menyangkut kehidupan dan hak mu kedepan. Yang pertama harus ditanyakan adalah mengenai visi rumah tangga. Percayalah, kalau dari visi saja sudah berbeda, maka setiap urusan akan menjadi lebih rumit. Tanyakan pula mengenai hal-hal seperti finansial, manajemen konflik, pengasuhan anak, dan lain-lain.

Bertanya kepada orang terdekat, keluarga atau temannya
Memang hal ini bisa sedikit rancu dan sangat subyektif. Tapi ini salah satu ikhtiar kita untuk menilai calon pasangan. Tanyakan kebiasaan-kebiasaan kecilnya kepada orang terdekat, bisa orang tua, adik, teman dekat dan banyak lagi. Tanyakan juga bagaimana dia berperilaku terhadap mereka, apakah dikenal sebagai orang yang berakhlak atau bagaimana.

***
Itulah beberapa ikhtiar yang dapat kita lakukan, namun kembali lagi pada poin pertama bahwa kita bukanlah siapa-siapa tanpa pertolongan Allah. Dalam menyikapi jawaban-jawaban calon pasangan, kita perlu objektif dan tidak bucin/baper.

Yang perlu digaris bawahi pula, ideal bukan berarti sempurna ya ladies. Perlu kelapangan hati yang luas dalam menjalani pernikahan untuk menerima kekurangan pasangan pada hal yang tidak prinsipil. Jika diniatkan untuk ibadah, insya Allah setiap ujian pasti memiliki hikmah dan jalan keluar. Akupun masih dan akan selalu dalam proses belajar.

Baarakallahu fiik. 

Comments

Popular Posts