Jelajah Bukit di Pinggir Kota
Tinggal di daerah Bogor ternyata punya kisahnya sendiri. Aku yang sedari kecil lahir dan tumbuh di Jakarta lumayan kagum dengan kota ini.
Waktu itu, jalan pagi masih menjadi rutinitas bersama suami karena jam kerja yang fleksibel. Kami memilih kawasan Sentul karena udara yang relatif sejuk di pagi hari, serta banyaknya jalan yang bisa disusuri. Setelah beberapa minggu pembiasaan rute dengan kontur jalan menanjak, muncul ide kekinian yang lebih menantang. Pengen trekking.Sebelumnya aku sudah pernah trekking di daerah Sentul dengan rute sekitaran Goa Garunggang. Sayangnya waktu itu benar-benar mengikuti ajakan impulsif teman-teman jadi badan ini belum persiapan dan jadinya malah kurang menikmati perjalanan. Kali ini bertekat untuk latihan agar after effect nya nggak terlalu jompo.
Setelah cari-cari info di internet dan berbekal liat video youtube orang-orang, kami memutuskan menempuh rute Bukit Paniisan dan tidak menggunakan guide, sekalian quality time berdua maksudnya. Rute nya lumayan jelas dan tentu saja karena hasil review orang-orang yang bilang kalau rute tersebut relatif aman karena akan ramai berpapasan dengan orang.
Hari H
Berangkat pukul setengah 6 dari rumah dengan waktu tempuh yang cukup singkat ke Leuwi Pangaduan (titik awal penanjakan). Sekitar jam 7 an sudah mulai masuk rute pendakian.
Sempet insecure kesasar, tapi ternyata bener kata orang-orang. Jalurnya jelas dan cukup ramai dilalui orang. Ada papan penunjuk jalan juga di titik tertentu.
Masya Allaah. Ternyata nano-nano banget perjalanan kami. Medan nya lebih menantang dibandingkan rute Goa Garunggang. Meski demikian, banyak sekali cerita yang bisa disimpan.
Pemandangannya Masya Allaah, betul-betul terus mengucap rasa syukur dan takjub pada Allah, Tuhan Semesta Alam. Rasanya kamera tidak bisa mengabadikan.
Kami memilih untuk menikmati perjalanan, alias kalau capek kami menepi dan rehat hahaha hingga cukup lama sampai ke puncak. Sekitar 1,5 jam. Setiap orang yang lewat kesana sangat ramah, terutama bagi rombongan dengan jumlah kecil. Pasti saling menyapa. Oiya, disana juga banyak warung yang dapat dijadikan tempat peristirahatan lalu jajan gorengan.
Sampai puncak, ada warung yang cukup terkenal bagi para trekkers. Ramai sekali yang singgah sambil makan mie instan dan cincau guna mengisi energi sebelum turun ke bawah. Setelah cukup beristirahat dan berfoto-foto di puncak, kami melanjutkan perjalanan untuk turun ke bawah melalui Curug Cibimbing. Ternyata jalurnya cukup terjal dan licin. Qadarullah kondisi tersebut diperparah dengan hujan. Laa hawla wala quwwata illaa billaah. Momen tersebut menjadi refleksi bahwa manusia sangatlah kecil dan hanya bisa berlindung kepada Allah.
Alhamdulillaah perjalanan berlangsung mulus dan sampai ke parkiran 2 jam kemudian.
Kesimpulannya? Tidak kapok dan kapan-kapan ingin mencoba lagi. Insyaa Allaah.

Comments
Post a Comment