Bersyukur itu PENTING
Berawal dari kejadian yang entah kenapa kalau diinget-inget rasanya masih nyesek dan sampai saat ini masih suka mengelabui pikiran.
Beberapa waktu yang lalu, seseneng itu, kayaknya bangun setiap hari dunia tuh indah ajaaa gitu. Segala masalah perskripsian rasanya nggak ada apa-apa nya. Semangat banget karena ada hal yang baik yang menanti setelahnya. Mulai perbaikin diri juga saat itu dan tentu nya semakin sering melangitkan doa. Bodohnya aku, lupa bersyukur dan sering mikir "hidup lancar banget, pasti kedepan banyak ujian yang menguras hati".
Memang godaan suka datang diwaktu kita senang alias suka ada pikiran males-malesan, dengan persepsi "ah tenang, yang di depan kan sudah 'pasti'". Ternyata yang tahu pasti atau tidak itu cuma Allah. Lupa kalau manusia hanya bisa berencana namun tetap Allah yang menentukan. Berasa tertampar banget begitu dengar kabar tidak mengenakan. Jujur aja, dunia berasa runtuh. Rasanya apa? sedih, malu, marah sama keadaan, boro-boro interaksi sama temen, semua sosmed langsung di uninstall, semua campur aduk, pelipur lara tentu hanya keluargaku.
Sedih berlarut-larut emang bukan tipikal ku. Ketika orang bertanya-tanya keadaanku, aku sudah ceria seperti sediakala. Mengerjakan kegiatan ku sembari menunggu waktu. Tapi memang dasar nya aku, sering terbangun malam-malam memikirkan hal itu. Andai saja.. andai saja.. Celakalah aku karena mulai sering menghitung-hitung nikmat-Mu.
Tadi malam sama saja, berkurang waktu tidurku memikirkan hal yang sudah berlalu. Bisa jadi ini ujian, bisa jadi ini hukuman. Obatnya bagaimana? Bersyukur. Tetap saja, selalu, kata-kata lebih mudah dilontarkan. Waktu, berpihaklah padaku dalam menyembuhkan luka yang semu.
Beberapa waktu yang lalu, seseneng itu, kayaknya bangun setiap hari dunia tuh indah ajaaa gitu. Segala masalah perskripsian rasanya nggak ada apa-apa nya. Semangat banget karena ada hal yang baik yang menanti setelahnya. Mulai perbaikin diri juga saat itu dan tentu nya semakin sering melangitkan doa. Bodohnya aku, lupa bersyukur dan sering mikir "hidup lancar banget, pasti kedepan banyak ujian yang menguras hati".
Memang godaan suka datang diwaktu kita senang alias suka ada pikiran males-malesan, dengan persepsi "ah tenang, yang di depan kan sudah 'pasti'". Ternyata yang tahu pasti atau tidak itu cuma Allah. Lupa kalau manusia hanya bisa berencana namun tetap Allah yang menentukan. Berasa tertampar banget begitu dengar kabar tidak mengenakan. Jujur aja, dunia berasa runtuh. Rasanya apa? sedih, malu, marah sama keadaan, boro-boro interaksi sama temen, semua sosmed langsung di uninstall, semua campur aduk, pelipur lara tentu hanya keluargaku.
Sedih berlarut-larut emang bukan tipikal ku. Ketika orang bertanya-tanya keadaanku, aku sudah ceria seperti sediakala. Mengerjakan kegiatan ku sembari menunggu waktu. Tapi memang dasar nya aku, sering terbangun malam-malam memikirkan hal itu. Andai saja.. andai saja.. Celakalah aku karena mulai sering menghitung-hitung nikmat-Mu.
Tadi malam sama saja, berkurang waktu tidurku memikirkan hal yang sudah berlalu. Bisa jadi ini ujian, bisa jadi ini hukuman. Obatnya bagaimana? Bersyukur. Tetap saja, selalu, kata-kata lebih mudah dilontarkan. Waktu, berpihaklah padaku dalam menyembuhkan luka yang semu.
Comments
Post a Comment