Berani Jujur Sejak Dini

Related image

"Hitam dan putih mudah digambarkan, tapi jauh lebih sulit menghasilkan variasi di antara kedua ekstrem ini, ketika kejujuran harus dihargai, dan kedua sisinya tidak berwarna terlalu gelap atau terlalu terang." - Eduard Douwes Dekker 

Kutipan di atas, memiliki makna bahwa jujur bukan merupakan perkara yang mudah. Kejujuran hanya datang dari pribadi yang berkarakter dan memiliki etika baik. Di era milenial ini, hanya segelintir orang yang menghargai kejujuran, dan sisanya hanya melihat keluaran yang dihasilkan. Berkaca dari pengalaman pribadi dan cerita beberapa murid SMA, sekolah di Indonesia masih rentan dengan bentuk ketidakjujuran di sekolah yaitu menyontek, baik dalam ulangan harian maupun Ujian Nasional (UN). Beberapa guru mungkin menegur dan memberikan sanksi, namun tidak sedikit yang membiarkan perbuatan ini. 

Keinginan mendapatkan nilai bagus rupanya menjadikan siswa menghalalkan segala cara, termasuk menyontek. Pasca UN 2018, sempat beredar di media sosial 'line', pengalaman salah seorang siswa yang menceritakan strategi menyontek melalui grup whatsapp dan line yang dilakukan oleh teman-teman nya (beserta bukti screenshot). Hal ini dia beberkan lantaran ia merasa jerih payah belajar selama ini tidak dihargai oleh teman-teman yang menyontek. 

Meskipun sudah terdapat Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) yang diterapkan sejak tahun 2015, nyata nya pada tahun 2015 tidak ada satu pun provinsi yang tidak terindikasi kecurangan. Betapa hal ini menunjukkan bahwa Indonesia darurat kejujuran. Selain itu IIUN juga rasanya belum tepat untuk mengukur integritas sekolah, karena kejujuran tidak dapat diukur dalam satu waktu saja. Oleh karena itu data IIUN bisa jadi merupakan data yang overestimate atau underestimate

Kegiatan sontek-menyontek ini juga didukung oleh perkembangan teknologi yaitu smartphone. Tidak dipungkiri bahwa celah dalam perkembangan teknologi juga dapat memudahkan aksi menyontek. Maraknya kegiatan ini menyebabkan sebagian anak sekolah menganggap menyontek adalah kegiatan yang wajar. Padahal, apabila dibiarkan lebih lanjut, menyontek sama saja dengan berbohong yang dapat menjadi cikal bakal dari korupsi. 

Kejujuran seyogya nya tidak dapat diperoleh dengan sekejap, tapi harus dipupuk sejak dini dan dimulai oleh orang-orang terdekat, yaitu keluarga. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menanampakan pendidikan karakter utama nya kejujuran sedari kecil. Pendidikan karakter sendiri masuk ke dalam program Nawacita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dikutip dari artikel sahabat keluarga berjudul 'Guru, Orang Tua dan Masyarakat Sumber Kekuatan Dunia Pendidikan dan Kebudayaan', Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan bahwa guru, orang tua dan masyarakat harus bekerja secara simultan dalam menanamkan nilai-nilai religius, kejujuran, kerja keras dan gotong royong pada penerus bangsa. 

Adapun penanaman pendidikan karakter pada keluarga dapat dilakukan melalui hal-hal kecil yang sedikit banyak sering dilupakan oleh para orang tua. Berikut ini merupakan beberapa hal yang dapat diterapkan dalam menanamkan kejujuran dari keluarga sejak dini : 

  • Menjalin komunikasi yang baik dengan pihak sekolah
Semakin berkembang nya jaman, kualitas sekolah dan guru tentu nya juga meningkat. Kebijakan full day school membuat anak menghabiskan waktu yang cukup lama di sekolah. Meninjau dari hal ini, orang tua dan keluarga sebaiknya tidak lepas tanggung jawab terhadap pendidikan anak di sekolah. Meskipun di sekolah sudah terdapat wali kelas, tentu nya peran orang tua tetap dibutuhkan untuk memantau perilaku anak di sekolah dengan cara menjalin komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Bicarakan apakah perilaku anak di sekolah baik, apakah anak pernah melakukan tindakan bohong atau menyontek, apakah anak pendiam, dan lain-lain. 
Nanti nya, apabila terdapat permasalah di sekolah, orang tua dapat melakukan pendekatan pada anak dan mengingatkan secara bijak tanpa meninggikan nada suara. Hal ini akan memancing anak untuk bercerita kepada orang tua secara jujur tanpa paksaan. 
  • Apresiasi hal-hal kecil yang anak lakukan
Mungkin bagi orang yang lebih dewasa, hal-hal seperti merapikan tempat tidur sendiri, menjawab pertanyaan guru di kelas, berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu, adalah perkara yang kecil dan kadang kali sering terlewat dari perhatian orang tua. Padahal, bermula dari apresiasi hal-hal kecil akan tumbuh rasa percaya diri dan motivasi pada anak untuk terus berbuat baik. Apresiasi yang dimaksud disini adalah apresiasi hal yang spesifik seperti "rapih sekali tempat tidur nya" atau "hebat, adik bisa menjawab pertanyaan bu guru". Hindari pernyataan seperti "tumben mengerjakan PR, ada mau nya ya?"
Pemupukan rasa percaya diri nanti nya akan berguna agar ketika anak dihadapkan pada pilihan menyontek karena ujian sulit, ia percaya bahwa ia dapat menyelesaikan ujian tersebut dengan kemampuan sendiri. 
  • Sediakan waktu untuk mendengarkan si kecil 
Walaupun terkadang orang tua merasa lelah sepulang kerja, tetap luangkan waktu untuk menanyakan hari yang dilalui si kecil. Waktu keluarga untuk saling bercerita juga dapat dijadikan momen merekatkan hubungan dengan anak. Bisa jadi, mereka menagalami hari yang berat dan sedang membutuhkan bantuan orang tua. Jangan marahi anak apabila mereka mendapatkan nilai yang kurang baik, dan jelaskan kepada mereka bahwa yang terpenting adalah proses dan tujuan sekolah adalah menuntut ilmu bukan menuntut nilai. Perhatian keluarga akan berdampak penting bagi pertumbuhan anak. Mereka akan merasa didukung, sehingga anak akahirnya memahami bahwa proses adalah hal terpenting dari suatu pembelajaran. 

Image result for parents and child relationship
  • Kenali potensi anak
Menurut buku 'Praktik Baik Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga' yang diterbitkan oleh Kemendikbud, menurunnya moral generasi penerus bangsa salah satu nya diakibatkan oleh orang tua yang tidak mengetahui potensi anak. Hal ini disebabkan lantaran orang tua sibuk bekerja, atau terlalu sering melarang anak sehingga anak tidak berani mencoba hal baru. Misal nya orang tua yang tidak tau potensi anak, cenderung mamaksa anak menjadi mahir pada bidang yang tidak sesuai minat dan bakat anak tersebut, sehingga jika anak gagal, orang tua menjadi tidak terima dan mengucapkan kalimat seperti "males banget sih kamu," atau "kamu kok nggak bisa apa-apa sih"
Untuk mengetahui potensi anak, orang tua dapat mengikutsertakan anak dalam ajang perlombaan, dan tanyakan kepada anak mana yang paling ia sukai. Ajang perlombaan juga menjadi salah satu media untuk mengenalkan anak pada sportifitas dan kejujuran.
  • Tanamkan pengetahuan tentang kejujuran dengan cara yang menyenangkan
Pengetahuan tentang kejujuran tidak hanya dapat dikenalkan dengan ceramah atau nasihat, tapi juga melalui hal-hal yang menyenangkan dan berkesan bagi anak seperti melakukan permainan kecil saat waktu luang keluarga, membacakan dongeng-dongeng dengan pesan moral kejujuran, dan lain-lain. Upaya membacakan cerita untuk anak juga dapat dijadikan wujud dukungan dan pelaksanaan program pemerintah terbaru yaitu GERNAS BAKU (Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku). Inti nya, buat anak merasa bahwa lingkungan tempat ia tumbuh merupakan lingkungan yang menjunjung tinggi kejujuran. 

Tentu nya masih banyak tips-tips yang dapat dilakukan untuk menanamkan pendidikan karakter  pada anak. Sekolah parenting juga mulai banyak tersedia baik secara online maupun offline. Kemajuan teknologi tentu nya ikut mempermudah orang tua untuk terus mengetahui perkembangan dunia anak, sehingga memudahkan orang tua untuk berinteraksi dengan anak-anak mereka. 

Terlepas dari beberapa hal di atas, tentu nya orang tua tetap harus mempraktikkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Ingat bahwa anak cenderung meniru perilakuk orang di sekitarnya. Maka, sebelum menginginkan anak yang jujur, jadilah pribadi yang jujur. #sahabatkeluarga

sumber ilustrasi : 
http://www.weheartit.com
http://www.pinterest.co.uk

Comments

Popular Posts