Realita

Cuma pikiran yang sekelebat lewat tapi menurut saya harus ditulis karena sekarang lagi banyak banget kejadian yang jadi banyak perhatian orang dan kejadian-kejadian tersebut datang bertubi-tubi. 
Makin hari saya makin merasa kalau kebenaran itu semakin getir. Ya, samar-samar gitu. Makin banyak hal yang tidak wajar tapi mulai diwajarkan atau dianggap seperti hal yang biasa

Se-simple kegiatan mencontek yang bahkan diri kita sendiri tau kalo itu salah, tapi makin kesini banyak orang yang menganggap itu biasa, untuk mendapatkan hasil terbaik bukan proses terbaik. Tidak lupa hal lain yang marak di mahasiswa, walaupun saya sendiri juga kadang begini, adalah tipsen alias titip absen. Masih harus sering-sering mengingatkan diri sendiri kalo itu salah, kalo kegiatan kecil seperti ini adalah cikal bakal kegiatan yang lebih besar nanti nya saat kita dewasa, salah satunya bisa menjadi cikal bakal korupsi. Ya, korupsi yang sekarang kita hina-hina

Kedua, hidup di jaman sekarang harus lebih pinter memilah informasi yang disajikan media massa, mulai dari sosial media, televisi, koran, dan radio. Sekarang, masing-masing golongan punya kepentingan sendiri. Tidak menutup kemungkinan yang ditampilkan adalah berita yang menguntungkan bagi golongannya masing-masing. Saya sebagai anak yang awam akan dunia perpolitikan, yang merasa bukan apa-apa untuk berpendapat, menjadi bingung saat dihadapkan dengan berita-berita atau malahan baca status line orang aja saya bingung. Bingung mana yang benar, karena sekarang hampir semua abu-abu. Yang benar dijegal dan dibuat seakan salah, lalu dicemooh habis-habisan oleh publik. Yang melakukan pembelaan terhadap suatu pihak bisa jadi besok hari malah menjadi lawan pihak tersebut. Terkadang, hal yang membuat saya sedih adalah berita, komentar, update-an media sosial tersebut malah menjatuhkan pihak lain. Kadang saya gemas, karena masih banyak orang yang belum bisa mengemas pendapatnya menjadi lebih santun, dan tidak menyakiti orang lain 

Masih banyak contoh-contoh lain, yang sebenernya saya masih belum berani nulisin secara terang-terangan karena topiknya sensitif hehe
Intinya, saya cuma mau bilang sih. Kita pasti memiliki pemikiran tertentu, bisa jadi kita tidak sependapat dengan sahabat, bahkan keluarga sendiri. Tapi alangkah baiknya ketidaksetujuan ini disampaikan dengan gaya bahasa yang santun tanpa disertai rasa benci yang membara. Ini pendapatku, apa pendapatmu? #ciyaa

P.S : Tulisan ini murni cuma opini seorang Sukma Rahayu, tidak memihak ataupun menyudutkan golongan tertentu. Perbedaan pendapat terhadap opini yang saya tulis adalah wajar :) Selamat membaca


Comments

Popular Posts