Tangan-tangan Penjaga

Halo, udah lama saya nggak nge blog, ternyata udah tahun 2017, ternyata udah liburan lagi, ternyata saya udah mau semester 4. Baru sadar kalau waktu terlalu cepat bergulir.

Dari kemarin saya udah kepikiran buat nulis blog lagi, lebih dikarenakan karena liburan ini saya nggak ada kerjaan. Selain pagi-pagi rapihin kasur, bantuin urusan rumah tangga, baca dua buku yang udah saya habiskan dan saya bingung mau ngapain lagi. Mau lanjutin project ngerajut saya kok rasanya mager. Anak sekolah belum pada masuk jadi saya belum mulai ngajar. Liburan ini memberi saya waktu untuk banyak merenung dan berpikir.. diantaranya adalah.....

Kesehatan itu mahal harga nya. 
Dari mulai UAS sampai hari ini saya menulis, kayaknya orang-orang disekitar saya lagi diberi peringatan kalau kesehatan itu merupakan nikmat yang tak ternilai. Selain itu kita juga jadi sadar betul siapa yang benar-benar peduli akan kesehatan kita, yang ternyata akan senantiasa mengurus kita kalau kita sedang sakit. Yap! Siapa lagi kalau bukan Mama. Kadang juga suka lupa kalau setiap orang itu tentunya bisa sakit, biasanya kita yang selalu mengandalkan dia, biasanya kita yang selalu minta ditemenin kalau ada kerjaan, biasanya kita yang lebih pengen didengerin ceritanya. Maunya dia yang selalu ada. Tapi ternyata kalau misalkan orang itu lagi sakit, kita baru sadar kalau harus meredam ego, yang tadinya maunya ditemenin terus jadi harus tau waktu untuk utamain istirahat nya dia. Pada saat ini rasanya ada suatu pembuktian yang harus dipenuhi, bukti bahwa kita juga selalu ada saat dia sakit, bukan kalau saat dia bisa diandalkan saja.. 

Liburan kali ini juga punya banyak waktu buat renungin mimpi-mimpi saya ke depannya. Kalau dibilang soal mimpi, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat, dan dapat mengeksplor luasnya dunia. Menurut saya, mimpi saya nggak wild kok, banyak banget orang Indonesia yang ingin dan sudah bisa seperti yang saya bayangkan. Tapi rasanya, setelah saya ungkapkan mimpi saya, ada tangan-tangan penjaga yang tak ingin saya berkelana, yang tak ingin saya pergi jauh-jauh. Disini saya sendiri cukup bingung terhadap sikap yang akan saya ambil. Saya rasa, dibandingkan teman-teman seperkuliahan saya, saya termasuk orang yang gitu-gitu aja dan kurang banyak pengalaman. Kenapa? Karena setiap saya sudah mantap untuk menambah pengalaman dan mengeksplor diri, tangan-tangan penjaga ini seperti menarik saya untuk tetap menjadi gadis manis di rumah. Kadang saya sedih, kadang saya gondok juga, tapi kadang saya juga mengerti kalau tangan-tangan penjaga ini hanya ingin menjaga saya, menjaga saya dari hal-hal buruk di luar sana, dari kejam nya dunia. Itu berarti saya harus mencari cara meng upgrade diri saya tanpa harus berkelana, tanpa harus pulang malam, tanpa harus jauh dari rumah. Tapi akankah saya bisa meng upgrade diri dengan keadaan seperti itu?




Comments

Popular Posts